Label

Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

TUB ROMLY, anti macet


"Ini penduduk Tub Romly sekarang? luar biasa" kata seorang warga Mesir di bus 926.

Ada tiga negara ASEAN yang warganya banyak belajar di Al-Azhar, yaitu Malaysia, Indonesia dan Thailand. Kebetulan saja, masing-masing dari mereka mendominasi sebuah wilayah di pinggiran kota Kairo. Pelajar Malaysia 'menguasai' distrik 7, warga Indonesia banyak tinggal di distrik 10, dan orang-orang Thailand kebanyakan berada di daerah Zahro Ain Syams dan Alfa Maskan. 

Untuk menuju kampus Al-Azhar, rata-rata pelajar Indonesia yang tinggal di distrik 10 menggunakan jasa bus bernomor 80 jurusan Zahro-Darrasah atau bus 65 jurusan Zahra-Sayyidah Aisyah. Saking banyaknya yang berangkat ke kampus, bus-bus itu selalu penuh sesak dan menambah kesempatan para pencopet. Selain menunggu bus yang lumayan lama, bus 80 dan 65 melewati jalur macet. Dari terminal Zahra Madinat Nasr, bus 80 melewati terminal distrik 10 yang selalu macet. Kemudian melaju ke pasar mobil (Suq Sayyarot) yang kalau hari Ahad dan Jumat hampir-hampir mobil tak bisa bergerak karena sangat macet. Setelah itu bus 80 belok kanan menuju distrik 8 dan melewati jalur termacet di Kairo Timur, yaitu jalan Mostafa El-Nahas. Barulah ketika melewati kampus putri Al-Azhar, bus 80 bisa melaju dengan sedikit cepat. 

Adapun bus bernomor 65, setelah melewati terminal distrik 10 dan pasar mobil, bus ini lurus menuju distrik 7, dan menemui jalur macet di depat kantor Enpi. Dari perempatan distrik 7, bus 65 menuju perempatan masjid Nury El-Khattab dan berjalan lurus ke daerah Rab'ah El-Adawiyah, yang merupakan saingan jalan Mostafa El-Nahas dalam hal macet. Baru setelah sampai di jalan Salah El-Salim, bus ini bisa berjalan lancar.
Karena melewati jalur macet, pengguna bus 80 dan 65 memerlukan waktu satu jam atau sering lebih untuk menuju ke kampus.

 TUB ROMLY

Secara administratif, Tub Romly masuk wilayah distrik El-Wahah, sebuah distrik yang tidak terkenal. Distik El-Wahah itu sendiri terletak persis di belakang distrik 10. Barangkali Tub Romly adalah perkampungan paling kampung yang berada di Kairo Timur. Tentu, setelah perkampungan Masakin Mustaqbal atau Mazbak dan kampung 4,5 (arba'ah wa nus). Beberapa tahun yang lalu Tub Romly tidak memilik terminal, karena bus 926 jurusan Tub Romly-Zamalek yang menjadi andalan mahasiswa dulunya cuma sampai di distrik El-Sifarat. Pantas saja, orang-orang dulu enggan tinggal di Tub Romly, karena aksesnya yang susah untuk berangkat ke kampus.

Namun, setelah terminal bus dipindahkan dari distrik El-Sifarat ke Tub Romly, ramai pelajar dan mahasiswa menyewa flat di Tub Romly. Kebanyakan dari mereka adalah pelajar dari negara pecahan Uni Soviet, seperti Rusia, Kazakhstan, Tajikistan, Uzbekistan, Kirgistan, dan sebagian kecil dari warga Kurdistan. Ada juga sebagain warga Malaysia dan Indonesia yang tinggal di wilayah ini.


Walaupun tempatnya di belakang, tetapi akses ke kampus Al-Azhar ternyata lebih mudah. Dengan menggunakan jasa bus 926 para pelajar bisa setiap hari ke kampus tanpa harus mampus didera macet. Dari terminal Tub Romly, bus melaju menuju distik El-Sifarat yang anti macet. Kemudian bus 926  melenggang menuju distrik 7, melewati kampus Azhar putri, distrik 6, dan sampai ke kampus II putra (fakultas Tarbiyah, fakultas Dakwah, dan fakultas Dirosah Islamiyah). Bagi yang mau menuju ke kampus I (fakultas Syariah, fakultas Ushuluddin, dan fakultas Lughoh), tinggal melanjutkan perjalanan melewati jalan Salah El-Salim, Nady Sikkah, dan berhenti turun di pertigaan Duwaiqah. Dari pertigaan ini para pelajar bisa naik angkot jurusan pasar Attaba melewati perempatan Bu'us, belok kiri menuju terminal Darrasah, lanjut ke pertigaan Kawakib, belok kiri, sampai di RS. Hussen belok kanan, dan turun pas di depan gerbang kampus. Praktis, penghuni Tub Romly tidak menemui jalur macet.

"Ini penduduk Tub Romly sekarang? luar biasa" kata seorang warga Mesir di bus 926.
Pantas saja, karena penduduk Tub Romly hampir semuanya orang asing.
Semoga para pelajar yang tinggal di Tub Romly selalu rajin ke kampus dan masjid Al-Azhar. Amin..

PESUGIHAN DI PIRAMID


Musim dingin 2012. Cuaca di Mesir sungguh tak menentu; kadang dinginnya minta ampun, kadang dingin biasa, kadang hangat, dan kadang pula agak panas. Kami bermaksud melakukan perjalanan ke salah satu situs sejarah tertua di dunia, yaitu Piramids di Giza. Salah seorang teman kami, yang katanya sedikit tahu tentang  perhitungan musim, memilih hari Rabu pahing, 8 Februari yang bertepatan dengan tanggal 1 bulan Amshir 1738 tahun Koptik. Hebat sekali, hari itu hari yang cerah dan hangat.

Setelah sekian jam menunggu beberapa teman yang barangkali sibuk mempersiapkan doa-doa perjalanan, akhirnya kami berangkat dari terminal Darrasa menuju stasiun Attaba. Dari Attaba, kami ber-tigabelas menuju Giza naik metro. Di Giza, kami turun di stasiun yang salah, karena mungkin guide kami terlalu 'khusuk berdoa' sehingga tersesat jalan. Sang guide kemudian mengajak kami ke stasiun yang benar.

Dari stasiun Giza kami naik taksi besar, satu taksi tujuh orang. Ada yang unik saat itu, ternyata kami dibawa ke sebuah kandang kuda dan onta. Kami baru sadar ternyata sopir taksi telah bersekongkol dengan si empunya onta, supaya kami naik onta menuju pyramids. Ah, pastinya kami tidak mau, karena kami ingin jalan-jalan, bukan naik onta.
Setelah adu mulut dengan pemilik onta, akhirnya kami naik microbus tua menuju gerbang pyramids. Di sana, kami langsung membeli tiket dengan harga separoh karena kami pelajar Al-Azhar, walaupun dua orang teman kami harus membayar lebih karena kartu mahasiswa mereka ketinggalan di asrama.

Masuk dengan perasaan lega, dan ber-foto ria tentunya, kami menggelar tikar dan makan bersama ala arekpondok. Digelar nasi putih dengan sayur kentang dan mendoan istimewa, kami makan bersama, tak perduli banyak mata memandang kami. Aneh, mungkin.

Setelah selesai kami mengisi ‘bahan bakar’, perjalanan kami selanjutnya menuju lokasi Spinx alias Abu al-ghaul. Di sana, bukan pemandangan zaman Fir’aun yang pertama kali kami lihat, melainkan pemandangan klenik yang aneh dan ajaib yang kami saksikan. Di depan pintu gerbang spinx terdapatlah lubang seperti sumur, kira-kira sedalam dua meter. Lubang tersebut dikelilingi pagar besi. Kami melihat ke bawah, dan, masya Allah, di sana terdapat banyak sekali uang kuno yang dilempar oleh turis-turis dari seluruh dunia. Dari sekian banyak uang kuno yang berserakan, mata kami terbelalak melihat pecahan uang Rp.100bergambar perahu! Uang Indonesia. Salah seorang di antara kami justru berfikir, barangkalai sumur tersebut bisa menjadi wasilah untuk mempermudah jodoh, dengan melempar surat cinta  ke dalamnya. Kami kira, itulah sumur pesugihan Piramids, yang dipercaya konon katanya bisa melipat gandakan rizki. Sumur ini barangkali lebih bertuah dari gunung Srandil, lebih angker dari gunung Kemukus, dan lebih ampuh dari gua Karangbolong pantai selatan. Selamat tidak mencoba. Wallahu a’lam.


Tub Romly, kampung kecil di pinggiran Kairo


El-Tub El-Ramly, yang oleh warga Indonesia di Kairo disebut dengan Tub Romly, adalah sebuah wilayah kecil yang terletak di pinggiran  kota Kairo, tepatnya di distrik 10, Nasr City, Kairo, Mesir. Mantiqoh padang pasir ini berbatasan dengan Swessry A dan Swessry B di sebelah utara, dengan Saqor Qurays di sebelah timur, dan dengan New Nasr City di sebelah barat dan selatan.

Wilayah Tub Ramly dibagi menjadi empat bagian; utara, selatan, tengah, dan barat.
Tub Ramly bagian utara adalah ‘markas besar’ warga Malaysia, karena di sana terdapat beberapa rumah negeri (asrama) yang menampung sekitar seribu pelajar Malaysia, lengkap dengan sarana olahraga, kantin, dan mushola. Hanya ada dua sa’ah (rumah) yang dihuni warga Indonesia, dan selebihnya adalah warga Mesir.
Tub Romly bagian selatan dihuni oleh orang Mesir gunung (jabal), dan merupakan “markas” (maaf) buronan polisi. Meski begitu, ada juga beberapa warga Indonesia yang tinggal di sana.
Adapun Tub Romly bagian tengah adalah ‘markas’ warga Rusia dan negara pecahan Uni Soviet. Warga Malaysia juga lumayan banyak di wilayah itu, meskipun tidak sebanyak di bagian utara. Selain itu, terdapat juga beberapa rumah warga Indonesia, Prancis, Inggris, dan Swedia.
Sebagian besar penduduk Tub Romly bagian barat adalah warga pribumi. Warga asing di sana adalah orang Thailand dan segelintir warga Indonesia.

Seperti wilayah-wilayah lain di Kairo, Tub Romly juga dilengkapi dengan fasilitas umum. Terdapat empat masjid yang tersebar di bagian selatan, tengah, dan barat. Adapun penduduk wilayah bagian utara, mereka satu masjid dengan penduduk bagian tengah. Terdapat juga dua mahattah akhir (terminal); satu mahattah bus besar, yaitu yang masyhur dengan bus nomor 926 jurusan El-Tahrir via Ma’had buuts, dan bus nomor 710 jurusan Ramsis. Mahattah satu lagi adalah mahattah bus tanggung-di Indonesia mungkin sejenis bus ¾- yaitu yang masyhur dengan bus nomor 1 jurusan Ramsis dan bus nomor 13 jurusan Heliopolis.

Warga Indonesia adalah minoritas di wilayah Tub Romly, karena menurut mereka, wilayah yang padang pasirnya masih luas itu dikenal sebagai ‘kampung angker’. Hal itu bisa dimengerti, karena letaknya yang berada lumayan jauh dari keramaian, sepi, dekat padang pasir, menjadi tempat persembunyian residivis, dan isu-isu yang lain. Namun bisa jadi, lima atau sepuluh tahun lagi, wilayah yang terkenal dengan jabal mazbaknya ini akan menjadi kota ramai, terbukti dengan berdirinya perumahan City Tower yang sudah dalam tahap finishing, dan pembangunan Bank Mesir dalam tahap pondasi.


Kamu belum cukup umur, nak !




Al-Azhar, selain tidak memungut biaya kuliah, juga memberikan minhah (beasiswa) kepada mahasiswanya yang berprestasi. Minimal predikat maqbul , insya Allah bisa mendapatkan biaya hidup untuk menunjang kelancaran tholabul ilmi. Satu tingkat di atas maqbul, yaitu jayyid, para mahasiswa bisa mengajukan minhah ke Al-Azhar, atau ke Bait Zakat Kuwait. Bait Zakat ini oleh sebagian mereka lebih disukai karena nominalnya lebih besar. Namun, jika sudah mendapatkan minhah dari Al-Azhar, mereka tidak bisa mengajukan minhah ke Bait Zakat, begitu juga sebaliknya.

Mulai tahun ini, tahun 2011, baik Al-Azhar maupun Bait Zakat bermaksud mempermudah administrasinya. Sebelumnya, pengambilan minhah dilakukan secara manual, harus ngantri panjang, dan kadang-kadang uangnya habis sebelum selesai pembagian. Jika sudah seperti itu, terpaksa para penerima minhah harus menunggu hari berikutnya. Supaya lebih mudah, sekarang pengambilan minhah bisa dilakukan lewat ATM. Tidak bosan ngantri, dan tidak takut kehabisan uang.

*****
Suatu hari, beberapa mahasiswa asal Indonesia mengajukan pembuatan ATM di bank yang telah ditunjuk oleh Bait Zakat. Dua orang dari mereka adalah teman akrab, yang dulunya satu almamater di sebuah pesantren di Indonesia. Sekolah bareng, berangkat ke Mesir bareng, dan mendapatkan predikat jayyid bareng. Meski selalu bersama, ternyata si A lebih tua dari si B. Si A lahir tahun 1990, sementara si B setahun lebih muda dari si A.

Berbeda dengan bank-bank di Indonesia, bank di Mesir, dalam hal ini Bank Faisal, mensyaratkan umur 21 tahun bagi para nasabahnya. Saat giliran si A menuju teller, petugas bank hampir saja menolak permohonannya, karena wajahnya yang imut-imut seperti anak 17 tahunan. Apalagi, wajah Asia terkesan awet muda jika dibandingkan dengan wajah Arab. Mungkin si petugas bank mengira si A masih berumur 9 atau 12 tahun. Si A yang merasa ditolak langsung saja protes, bersikukuh bahwa dia sudah cukup umur, karena memang usianya genap 21 tahun. Setelah sebentar adu mulut, akhirnya si A meminta petugas bank untuk meneliti dokumennya. Setelah melihat paspor si A, petugas baru percaya, dan mengabulkan permohonan si A. sukses buat si A, ATM telah di tangannya.

Lain lagi dengan si B. Petugas bank hampir saja mengabulkan permohonannya, dan membuatkan kartu ATM untuknya. Pantas saja, karena penampilannya mirip kyai sepuh, tak pernah lepas peci dan baju koko. Ditambah jidatnya yang agak hitam karena (mungkin) rajin sujud dan jenggotnya yang lumayan panjang, siapapun tak mengira jika umurnya baru 20 tahun. Hampir saja permohonannya dikabulkan, tapi tiba-tiba mata petugas bank menangkap tanggal lahir si B, ternyata si B belum genap 21 tahun..
Alamak..!!

3 IN 1


Sampai saat ini, Mesir masih menjadi negara tujuan pelajar muslim dari seluruh penjuru dunia, tak terkecuali pelajar dari Indonesia. Sejak pertengahan abad ke-19, pelajar dari Indonesia yang dikenal dengan ruwaq Jawi berbondong-bondong memasuki Mesir, dengan tujuan utama untuk belajar di universitas Al-Azhar. Selain kuliah resmi, di universitas yang berdiri sejak tahun 972 M ini juga terdapat pengajian umum yang bertempat di masjid Al-Azhar. Pengajian ini bisa diikuti oleh semua kalangan, baik kalangan mahasiswa maupun masyarakat biasa. Bukan hanya itu, terdapat juga pengajian di luar Al-Azhar, seperti di Darul Ifta, Madyafah, Mukattam, dan tempat-tempat lain.

Selain menjadi sumber ilmu pengetahuan Islam, Mesir juga merupakan negeri yang kaya akan peninggalan sejarah, yang biasa dikunjungi oleh turis asing. Negeri Firaun ini terkenal dengan piramidnya, mulai dari pyramids Cheops, Chevren, dan Menkaura, juga Spinx yang melambangkan kejayaan masa lalunya. Bagi seorang muslim yang ingin mengenang kejayaan Islam di Mesir, dia bisa mengunjungi masjid Amr bin Ash, masjid Ahmad Ibn Tulun, benteng Shalahudin Al-Ayyubi, dan peninggalan Islam lain. Para peziarah makam auliya juga bisa khusuk berdoa di makam Sayyidina Husen bin Ali, makam Imam Syafii, makam Sayyidah Zainab, dan makam auliya lain yang tak terhitung jumlahnya. Ummat Kristen pun bisa berwisata religi di Mesir, dengan mengunjungi gereja Al-Mu’allaqa, gereja Virgin, gereja Katedral Santa Marc, dan museum koptik. Ini baru di Kairo, belum lagi di Alexandria dan daerah lainnya.

Mesir memang negara tujuan pelajar muslim, juga turis internasional. Tapi Mesir bukanlah negara kaya, terbukti dengan jumlah pengangguran yang cukup tinggi, yaitu 12 persen dari angkatan kerja. Fasilitas umum, seperti terminal, stasiun, dan pasar masih terlihat kumuh dan kotor. Dan, tidak sedikit anak di bawah umur yang harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya, karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Mungkin karena itulah, pemerintah Indonesia tidak mengirimkan TKI ke Mesir.



Calon mahasiswa Al-Azhar dari Indonesia ada yang ‘ala minhah (mendapat beasiswa, dan langsung tinggal di asrama) dan ada yang non minhah. Bagi camaba ala minhah, semua kebutuhannya sudah ada yang mengurus, dan nantinya langsung tinggal di asrama. Tapi bagi yang non minhah, camaba mengurus sendiri segala keperluannya, mulai dari tiket pesawat, visa, sampai kos-kosan di Mesir.

Perlu waktu agak lama dan harus bersabar untuk mendapatkan visa pelajar dari kedutaan Mesir di Jakarta. Sebagian mahasiswa baru dari Indonesia, mungkin sebagian besar, berangkat ke Mesir dengan visa turis. Itu dilakukan karena mereka khawatir tertinggal mengikuti test masuk Al-Azhar, yang kalau sampai ketinggalan, mereka harus menanti test masuk pada tahun ajaran berikutnya. Mereka berani melakukan itu, dengan harapan setelah diterima di Al-Azhar nanti bisa mendapatkan visa pelajar dari kantor imigrasi Mesir.

Al-Azhar tidak memungut biaya pendidikan kepada mahasiswanya. Namun, bagi mahasiswa yang non minhah, mereka masih mengandalkan kiriman dari keluarga. Kalau tidak, kebanyakan mereka akan bekerja. Karena begitu banyak mahasiswa Indonesia di Mesir, mencari ekonomi di sana menjadi relatif mudah. Prinsipnya, dari mahasiswa untuk mahasiswa. Beragam pekerjaan dilakukan, mulai dari jualan tempe, bekerja di warung Indonesia, sampai agen tiket dan pengiriman barang ke Indonesia.

Tentu, mahasiswa Indonesia di Mesir berusaha untuk membagi waktunya, antara belajar dan bekerja. Selain itu, mereka juga menyempatkan diri untuk jalan-jalan menikmati pariwisata negeri Firaun ini. Dan, dengan menunjukkan kartu mahasiswa, mereka akan mendapat tiket khusus yang lebih murah. Seorang mahasiswa Al-azhar pernah menulis di status Facebooknya: [ketika aku ditanya, “Kamu ini mahasiswa, turis, atau TKI?” saya akan menjawab, “Dibilang mahasiswa, ya aku memang mahasiswa, karena aku kuliah di Al-Azhar. Dibilang turis, aku juga sering jalan-jalan ke tempat wisata. Disebut TKI juga boleh, karena aku memang bekerja untuk membiayai hidupku.”]