Label

Senin, 30 September 2013

Biografi Syaikh al-Azhar: Syaikh al-Azhar ketiga puluh


Syaikh Muhammad al-Ahmadi al-Dzawahiri (1887-1944 M)


Beliau adalah al-Imam Syaikh Muhammad al-Ahmadi bin Syaikh Ibrahim bin Ibrahim al-Dzhawahiri, lahir di desa Kafr al-Dzawahiri, Propinsi Syarqiyyah pada tahun 1295 H/ 1887 M. Setelah menghafal Alquran, beliau berangkat ke Kairo untuk menimba ilmu di al-Azhar.

Guru beliau di al-Azhar adalah Syaikh Muhammad Abduh. Beliau tidak pernah absen dari seminar-seminar yang diadakan di ruwaq Abbasi masjid al-Azhar, terutama jika narasumbernya adalah guru beliau itu.

Ayahanda beliau, Syaikh Ibrahim al-Dzahawahiri adalah sahabat dekat Syaikh Muhammad Abduh. Namun ayahanda dan guru beliau itu berbeda jauh dalam pandangan hidupnya; ayahanda beliau adalah seorang sufi sementara guru beliau adalah seorang pemikir modern. Namun beliau bisa menggabungkan pandangan keduanya. Maka tidak aneh jika pada satu waktu beliau terlihat di seminar-seminar, pada waktu yang lain beliau berada di makam para wali untuk berziarah dan memohon berkah.

Setelah merampungkan pendidikan di al-Azhar, beliau mendirikan Ma’had Ali di Propinsi Thantha. Ma’had tersebut bersanding dengan al-Azhar dan juga mengeluarkan ijazah sarjana. Ketika itu umur beliau belum genap 27 tahun.

Pada 7 Jumadil Awal 1348 H/1929 M Syaikh Muhammad al-Ahmadi al-Dzawahiri diangkat menjadi Syaikh al-Azhar menggantikan Syaikh Musthafa al-Maraghi yang mengundurkan diri. Segera beliau memperbaiki administrasi al-Azhar dan mendirikan tiga fakultas di al-Azhar, yaitu:
-          Fakultas Syariah untuk mencetak para mufti
-          Fakultas Ushuludin untuk mencetak guru agama
-          Fakultas Bahasa Arab

Untuk menyebarkan misi al-Azhar ke tengah masyarakat luas dan ke luar negeri, pada bulan Muharram 1349 H/ 1931 M beliau mendirikan majalah “Nur al-Islam” yang merupakan cikal bakal “Majalah Al-Azhar”. Saat itu pemimpin redaksinya adalah Syaikh Muhammad Khidr Husain.

Untuk menjawab tantangan zaman, beliau memasukkan beberapa ilmu baru ke dalam kurikulum al-Azhar, seperti bahasa asing (Inggris dan Perancis), sosial politik, hukum international, psikologi dan lain sebagainya.

Karya-karya beliau, di antaranya:

1.       Al-ilm wa al-ulama
2.       Risalah al-akhlaq al-kubra
3.       Al-siyasah wa al-azhar

Pada masa kepemimpinan Syaikh Muhammad al-Ahmadi al-Dzawahiri, al-Azhar diperebutkan oleh tiga kelompok di Mesir, yaitu pemerintah Kerajaan Mesir, Wakil Rakyat Mesir di parlemen, dan penjajah Inggris. Berbagai tekanan di alami oleh beliau, hingga akhirnya beliau mengundurkan diri pada tahun 1935 M. Kemudian Syaikh Musthafa al-Maraghi diangkat kembali menjadi Syaikh al-Azhar untuk kedua kalinya.

Syaikh Muhammad al-Ahmadi al-Dzawahiri adalah seorang ulama yang zuhud dan tidak suka ketenaran. Beliau selalu mengatakan, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bertakwa.” Beliau juga sering mengatakan, “Saya hanyalah seorang pelayan al-Azhar.”

Beliau wafat dan meninggalkan umat Islam pada tahun 1944 M dalam umur 57 tahun.

Sumber: al-Azhar al-Syarif fi dhaui sirati a’lamihi al-ajilla, karya Dr. Abdullah Salamah Nasr dan sumber-sumber yang lain.

Biografi Syaikh al-Azhar: Syaikh al-Azhar kedua puluh sembilan


Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi (1298-1364 H/ 1881- 1945 M)


Beliau adalah al-Imam Syaikh Muhammad bin Musthafa bin Muhammad bin Abdul Mun’im al-Maraghi, lahir di desa Maraghah Propinsi Suhaj pada tanggal 7 Rajab 1298 H/ 9 Maret 1881 M. Beliau hidup di lingkungan yang agamis sehingga bisa menghafal Alquran sejak kecil untuk kemudian berangkat menimba ilmu ke al-Azhar.

Sejak muda beliau terkenal rajin mengaji dan berguru kepada ulama-ulama terkemuka. Salah satu dari guru beliau adalah  Syaikh al-Shalahi yang mengajari beliau ilmu balaghah. Adapun perkembangan pemikiran beliau selanjutnya sangat dipengaruhi oleh Syaikh Muhammad Abduh yang menjadi guru utama beliau.

Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi adalah pelajar yang aktif di dunia jurnalistik. Pada tahun 1900 M beliau mendirikan sebuah surat kabar yang diterbitkan di daerah al-Baludzah.

Pada saat itu al-Azhar sedang mengalami masa pembaharuan yang cemerlang. Mesir kedatangan tokoh pemikir dari Afganistan, yaitu Syaikh Jamaluddin al-Afgani. Hampir setiap hari ruwaq al-abbasi di masjid al-Azhar menjadi tempat seminar pemikiran dan kebudayaan yang diisi oleh pemikir-pemikir modern. Beliau selalu menghadiri seminar tersebut, apalagi jika narasumbernya adalah Syaikh Muhammad Abduh.

Beliau adalah seorang mahasiswa yang berakhlak mulia, cerdas dan rajin belajar. Pada imtihan tingkat akhir, beliau sakit demam. Namun hal itu tidak menghalangi beliau untuk menjadi mahasiswa terbaik saat itu. Beliau meraih gelar doktoral dalam usia yang sangat muda, yaitu pada umur 24 tahun. Beliau diundang ke rumah Syaikh Muhammad Abduh untuk mendapatkan penghargaan khusus.

Jenjang karir Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi sebelum diangkat menjadi Syaikh al-Azhar:
-          Qadhi negara Sudan, tahun 1908 M
-          Kepala peneliti syariat di Kementrian Kehakiman Mesir,  tahun 1919 M
-          Kepala Mahkamah Mesir, tahun 1920 M

Pada tanggal 22 Mei 1928 M Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi diangkat menjadi Syaikh al-Azhar. Saat itu beliau membentuk lembaga-lembaga untuk menambah pamor al-Azhar di dunia international. Beliau menitikberatkan pada program pasca sarjana, sehingga beliau mendirikan tiga fakultas sekaligus, yaitu Fak. Bahasa Arab, Fak. Syari’ah dan Fak. Ushuludin.

Pada tahun 1929 M terjadi perselisihan antara Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi dan Raja Fuad. Perselisihan itu berakhir dengan pengunduran diri Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi dari jabatan Syaikh al-Azhar dan digantikan oleh Syaikh Muhammad al-Ahmadi al-Dzawahiri.

Selama kurang lebih 5 tahun, Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi berdiam diri di rumah dan merancang program masa depan untuk al-Azhar, hingga pada 1935 M beliau di angkat kembali menjadi Syaikh al-Azhar untuk kedua kalinya. Selain itu beliau juga diangkat menjadi Menteri Perwakafan Mesir pada tahun 1938 M, dan menjabatnya selama 7 kali berturut-turut.

Beberapa pemikiran beliau adalah:
-          Bahwasanya  pembaruan dalam hukum syariat adalah wajar bagi umat Islam; masalah-masalah fikih selama bukan hukum qath’iy bisa dirubah dan diperbarui.
-          Dalam berfatwa beliau selalu mengambil pendapat yang mudah, seperti nasihat Syaikh Muhammad Abduh: “Ilmu adalah apa yang bermanfaat bagimu dan masyarakat.”
-          Beliau membuka pintu ijtihad dan mengajak umat Islam untuk tidak fanatik buta kepada madzhab fikih.

Al-Azhar di masa kepemimpinan Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi telah membentuk beberapa lembaga, di antaranya adalah: Lembaga fatwa, lembaga penyuluhan dan Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah.

Karya-karya beliau, di antaranya:
1.       Al-auliya wa al-mahjurun
2.       Tafsir juz tabarak
3.       Baths fi wujub tarjamah al-qur’an
4.       Risalah al-zumalah al-insaniyah, seminar antar agama di London

Pada malam 14 Ramadhan 1364 H/ 22 Agustus 1945 M Syaikh Muhammad Musthafa al-Maraghi sedang mengajar tafsir Alquran, yaitu surah al-Qadr. Saat itulah ajal menjemput beliau dan umat Islam kehilangan beliau untuk selamanya.

Sumber: al-Azhar al-Syarif fi dhaui sirati a’lamihi al-ajilla, karya Dr. Abdullah Salamah Nasr dan sumber-sumber yang lain.

Biografi Syaikh al-Azhar:Syaikh al-Azhar kedua puluh delapan


Syaikh Muhammad Abu al-fadl al-Gizawi (1264-1364 H)


Beliau adalah al-lmam Syaikh Muhammad Abu al-fadl al-waraqi al-Gizawi, lahir di kota Giza pada tahun 1264 H. Dalam umur 5 tahun, yaitu pada tahun 1269 H beliau mulai menghafalkan Alquran dan selesai pada tahun 1272 H. Kemudian setahun berikutnya beliau berangkat ke Kairo untuk menimba ilmu di al-Azhar.

Di awal pendidikan, beliau mendalami ilmu tajwid dan menghafalkan matan-matan kitab. Kemudian beliau mempelajari berbagai ilmu dan fokus kepada fikih madzhab Imam Malik. Beliau berguru kepada para ulama terkemuka saat itu, seperti Syaikh Muhammad Ilisy, Syaikh Ali al-adawi, Syaikh al-Marshifi dan ulama lainnya.

Setelah merampungkan pendidikan pada tahun 1287 H, oleh Syaikh al-Inbabi (Syaikh al-Azhar ke-22) beliau didaulat untuk menjadi pengajar. Kemudian beliau diangkat menjadi anggota pengelola al-Azhar pada bulan Rabiul awwal tahun 1313 di masa kepemimpinan Syaikh Salim al-Bisyri (Syaikh al-Azhar ke-25).  Beliau sempat mengundurkan diri dari jabatan tersebut namun akhirnya kembali lagi pada tahun 1324 H di masa kepemimpinan Syaikh al-Syirbini (Syaikh al-Azhar ke-27).

Pada tahun 1326 H beliau diangkat sebagai wakil Syaikh al-Azhar. Kemudian beliau diangkat menjadi Syaikh yang memimpin Alexandria selama 8 tahun. Pada tanggal 14 Dzulhijjah 1335 H/1917 M beliau diangkat menjadi Syaikh al-Azhar. Setahun kemudian beliau juga diangkat menjadi kepala ulama madzhab malikiyah.

Di masa kepemimpinan beliau, Mesir penuh dengan gejolak politik. Pada tahun 1919 M terjadilah revolusi rakyat Mesir melawan penjajah, sementara para penguasa juga saling berebut kekuasaan. Beliau bersama para ulama senior al-Azhar dan seluruh elemen umat beragama di Mesir bersatu untuk melawan penjajah.

Syaikh Muhammad Abu al-fadl al-Gizawi adalah orang yang pertama menerapkan program “takhassus” yang diikuti oleh mahasiswa pasca sarjana. Beliau membaginya menjadi beberapa bagian, yaitu: Tafsir dan Hadits, Fikih dan Ushul, Nahwu dan Sharaf, Balaghah dan Sastra, Tauhid dan Mantiq serta Sejarah dan Akhlak.

Karya-karya beliau, di antaranya:
-Ijazah yang beliau berikan kepada Syaikh Muhammad bin Muhammad al-Maraghi al-Maliki al-Jirjawi
- Al-Thiraz al-hadits fi fann al-musthalah al-hadits
-Ta’liqat ‘ala Syarh al-‘adudh (usul fikih)
-Kitab tahqiqat syarifah.

Beliau termasuk ulama yang panjang umur, yaitu mencapai seratus tahun. Setelah mengabdi kepada al-Azhar dan umat Islam beliau wafat pada tahun 1364 H.